Minggu, 12 Agustus 2012

SURAT CINTA DARI KANTOR POLISI


By: Meyrist Situngkir

 

“Deal kan ke Belanda say?”, aku memandang wajah imut kekasihku lewat skype, si keriting yang menarik. Semenjak di Belanda, Charlie memang suka gonta ganti gaya rambut, tapi tetap keren..aslinya sih memang keren.

Adik kelasku dulu waktu SMU...dia mendapat beasiswa S2 di Belanda.

Aku hanya tersenyum dimabukkan oleh pesonanya, kalau lagi dekat mungkin aku sudah tidak mau lepas dari pelukannya yang hangat, jadi ngiri dengan orang yang pacaran jarak dekat.

Sudah terjalin dua tahun lebih, dan satu tahun kemarin dia meninggalkanku dengan janji setia yang aku yakin bisa kupercaya..

Aku hanya mengangguk, “Jangan mengangguk aja dong, sayang. Aku kan pengen dengarkan suaramu”, “Habis kamu makin ganteng sih, sayang..bikin kangen tau?”, aku mengetik sambil tersenyum..namun jelas terpancar diwajahku rasa cinta.

“Tenang aja beib, minggu depan kekasihmu ini akan pulang”, senyumnya seolah itu kalimat yang biasa.

Aku melongo didepan layar monitor “, Yakin?”.

“Yakinlah..”, dia melepaskan headsetnya sambil mengetik

“Oh..i miss that moment so much..”

“I miss you too, hun!” Charlie terlihat serius...

 

******

Tak sabar...

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, rasa rinduku amat sangat membuncah..

Berkali kali aku melirik jam tanganku, rasanya waktu lama sekali diajak kompromi...

Seperti apa wajah aslinya setelah setahun tidak bertemu?

Aku menyetel lagu kesukaan kami dulu..waktu masih sama sama di putih abu abu

I MISS YOU LIKE CRAZY

Lagunya the moffats

 

“I used to call you my girl

I used to call you my friend

I used to call you the love

The love that i never had

I dont know what to do

When will i see you again

Chorus:

I miss you like crazy

Even more than words can say

Every minute of every day Girl Im so down when your love’s not around I miss you, miss you, miss you like a crazy

Aku melamun sejenak, meresapi lagu itu...seseorang mengetuk kaca mobil, aku hampir ketiduran, aku terhenyak kaget, sesosok wajah putih berada disamping kaca spion, mengenakan celana pendek warna coklat, jaket merah marun dan sepatu kets santai...Charlie banget..style nya masih belum berubah. Rasa kantukku kontan menghilang...

Charlie gantian menyetir sebelum akhirnya dia mencium keningku lembut..

“Kangen honey..!!!”, aku menggenggam tangannya erat. I miss you so much..”.

“tomat?”, godanya kalem, “so much honey, so mach so mach tomat..”, aku tersenyum bahagia.

“Merah dong..”, godanya lagi

“Bulat aja sekalian, kayak aku..!” , wajahku bersemi merah.

Aku menatap wajahnya seolah tak percaya, sambil menyetir tangannya tetap menggenggam tanganku.

“Aku ingin melamarmu, makanya aku pulang..”,

“Really?”, aku tak bisa menyembunyikan rona bahagiaku. Charlie mengangguk yakin.

****

Sedikit agak nervous memasuki  rumahnya Charlie yang berdiri megah, hasil keringkat kekasihku selama bekerja dinegeri paman sam sana. Dulu aku masih ingat, keluarga mereka hidup pas pasan, Charlie pemuda yang tegar dan tangguh, pernah tidak makan berhari hari karena tidak punya uang, namun keadaan itu justru menempanya menjadi pribadi yang kuat dan tegar, rela melakukan pekerjaan apa saja untuk mendapatkan uang.

Setidaknya terbayar lunas kini masa masa sulit dan penuh perjuangan itu, sudah lama tidak kerumah orangtua Charlie, aku memang membatasi diri sebagai kekasihnya, sebagai orang batak aku takut melampaui batas.

Dan kami belum pernah memproklamirkan diri secara khusus bahwa kami in a relationship..

Ibunya menyambutku dengan ramah.....

“Mawar, sudah lama tidak kerumah?”,

“Iya nantulang, “. Itu dia...sebenarnya Charlie masih tergolong tulang alias pamanku, Cuma rasa cinta membuat kami menyingkirkan “status” itu, lagipula toh zaman sekarang sudah jauh lebih fleksibel, tidak seperti zaman dulu lagi sangat ketat dalam hal “paradaton”.

“Sehatnya kau boru?, kenapa tidak pernah main main kesini?”, bukan basa basi, karena memang ibunya Charlie sangat tulus, khas wanita batak dari Samosir.

“Sehat nantulang..”, suaraku terdengar grogi, bagaimana kalau ibunya Charlie menolak?..entah mengapa aku mendadak resah, aku minum berkali kali. Charlie menangkap kegelisahanku, menggenggam tanganku erat, ibunya menatap tajam seolah tidak suka. “Susah memang anak jaman sekarang, sudah tidak sama dengan zaman inang dulu, kalau inang dulu jalan sama laki laki itu jarak dua meter jaraknya, kalau “martandang” dulu itu tidak ketemu muka, dari “bara”nya lelaki, perempuan diatas rumah saling menjawab, tidak bertatapan muka, makanya tidak banyak yang rusak, jangan semua budaya luar itu kau praktekkan di sini amang..” sindiran yang sangat halus tapi mengena hingga ke jantung..degg...sontak Charlie melepaskan tanganku.

Memberi isyarat dengan matanya , aku hanya terdiam kaku....”Inang, kepulanganku kesini aku mau melamar..”, tatapannya menenangkanku. Aku masih saja tergugu kaku...tatapan ibunya terasa tidak bersahabat dimataku, entahlah apakah aku yang salah menilai..

Ibunya menghela nafa sejenak, “Inang sih setuju saja, memang sudah seharusnya kau menikah, jangan melanglang buana lagi, cari kerja di Indonesia saja..inang sudah tidak butuh harta, inang butuh ada yang menemani, adik adikmu tidak ada yang bisa diharapkan..”, aku mulai bernafas lega...lampu hijau berarti.

Charlie menatapku lembut, tersenyum...”Ok inang, akan segera aku urus pernikahan kami, setelah ini akan aku boyong Mawar ke Belanda, hanya setengah tahun disana, kami akan kembali..”. janjinya pasti. Aku menatapnya penuh cinta sambil berucap dalam hati “Terimakasih, sayang”.

********

Aku melompat kaget saat sebuah mobil jip hampir menabrakku, hampir saja kumaki ketika dia datang tergopoh gopoh meminta maaf...

“Sorry..sorry, aku lagi buru buru..!”

“Buru buru juga, mang ini jalan nenek moyang lo?”, semprotku

Dia hanya tersenyum kalem, dibalik sweaternya melekat seragam coklat. “Oh, kamu polisi?, gak punya aturan banget sih, katanya tugasnya mengabdi..”, aku makin emosi, nyawa nih...

“Sorry nanti kita bereskan, aku hanya ingin buru buru ke tujuan, lain kali kita bertemu lagi..”, meloncat kembali ke jipnya. Aku hanya terpaku, dia berlalu dengan kecepatan lumayan tinggi.

Ada yang ketinggalan....aku mengambil sesuatu dari aspal....sebuah dompet berwarna hitam, ada sejumlah uang dan surat surat berharga. Namanya Ringgon, unit Buser...Polres Poso...

Ketemu nomor teleponnya, aku menelpon tapi nadanya sibuk....akhirnya ku sms “,Maaf, dompetmu ketinggalan, aku dapet nomermu di dompetmu, kalau mau jemput kerumahku alamat bla..bla”, singkat dan aku yakin dia cukup mengerti..

Segera ada balasan di Hpku “Simpan saja dulu, kapan kapan kujemput, buru buru aku harus balik ke Poso..”.

Dia mengaku sudah di Bandara...

Aku menggenggam dompetnya erat.

Sorenya....

Ringgon menelpon “Hai...”, aku membalas ramah “Hai juga?”, “Lagi sibuk nggak?”, “Biasa aja”, jawabku datar.

Sepertinya dia sedikit pendiam, banyak diam namun tidak mau menutup telepon, akhirnya aku yang menutup telepon tanpa basa basi.

Lelaki itu mulai sering menelepon, tidak terlalu sering, sekali seminggu, namun lama lama mulai kurasakan kehangatan hatinya, dulu aku sangat benci pada polisi, tapi dia beda setidaknya itu yang tersirat. Lugu dan anak rumahan banget...mungkin area  bermainnya hanya rumah dan kantor, aku mulai bersimpati...

“Aku dulu benci dengan polisi”, aku mencoba jujur

“Kenapa?”

“Dimataku polisi itu bajingan, suka godain cewek, yah pokoknya alergi deh sama yang namanya polisi..”

“Oh ya?, menurutmu aku?” Ringgon sedikit penasaran.

“Sedikit lebih baiklah, kan aku juga ga tau aslimu gimana, belum tau..”.

“Sudah punya pacar?”, aku sedikit kaget..itu pertanyaan yang menjurus...

“Hah?”,

“Iseng doang, jangan dianggap serius. Kamu bukan typeku..”, nadanya kalem

Dalam hati aku mengutuk “Sialan...”.

*****

Charlie agak kelelahan akhir akhir ini, aku memijit punggungnya, selain untuk urusan pernikahan dia juga sibuk dengan projectnya dengan almamaternya, Charlie diundang menjadi pembicara “Education Characters”, wajahnya pucat keringat dingin. Aku memegang tangannya erat, “Kamu pucat..”, “Aku nggak apa apa, asal ada kamu..!!” masih sempat ngegombal..

Charlie membuka BB nya, “Coba deh baca statusku..”, aku melirik ke layar blackberry-nya, ada photoku yang sedang tertidur nyenyak dirumahnya, kata kata dibawahnya “,Kekasihku ngegemesin juga kalau lagi tidur, kayak bayi..cantik, kayak Afika yang bintang iklannya oreo, pengen nyium..tapi belom boleh..belom sah..!!”, aku memukul lengannya manja, “Dasar...”. Charlie memelukku...mencium keningku. Hpku bunyi “, Ringgon..”, Charlie bertanya “Siapa say?”, “Teman sayang, dia polisi di Poso, kemarin itu dompetnya jatuh trus aku telpon dia, jadinya temenan deh..”, Charlie hanya ber-ooh panjang. “Eh, aku lupa..inang ngundang kita makan dirumah, katanya dia lagi buat napinadar..”. aku hafal masakan itu, ayam yang dipanggang darahnya dicampur kedalam bumbu, rasanya sedap pedas muantapp.

“Kapan jadinya tanggal pernikahan kalian”, Inang mulai serius mengurusi rencana pernikahan kami, “Tanggal 14 februari saja inang, biar romantis..”, Charlie memang selalu romantis, kebiasaan itu sudah ada dari SMU.

“Ah terserah kalianlah, tapi inang hanya tau hari baik yang diatur menurut adat batak, kapan jadinya kau beritahu mamak, supaya punya persiapan juga, menikah itu perlu persiapan matang “, aku hanya mengangguk hormat “Sudah inang, mama sudah setuju, atau perlu bicara dengan mama?”, aku memencet hpku lalu menyerahkan kepada mama Charlie. Calon mertuaku itu keluar mencari sinyal yang bagus, karena dirumah batak jarang ada sinyal.

Mereka terlibat pembicaraan panjang dan akrab, aku tersenyum bahagia..bukankah itu awal yang sangat bagus?.

Lalu.....

Inang terdiam sejenak sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang.  “Mawar dan Charlie, kalian tidak bisa menikah..!!”, serasa disambar petir kami berdua saling berpandangan. Badanku mulai gemetar “, Ma...maksudnya?”, airmataku mulai berlinang, Charlie tak kalah shocknya..

“Yah...begini inang..”, mama Charlie terlihat sangat berat hati, terlihat tidak tega melihat wajah shockku. “Begini...ternyata aku kenal mamak kau, kawan sepermainanku di Samosir, dan ternyata kalian itu saoppung kandung, sedarah..”, penjelasan itu lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan mimpi kami berdua. Aku masih berdiri dengan tidak percaya...bahkan untuk berdiripun aku rasanya tak sanggup..”Ternyata kita saudara..”, Charlie tak kalah terlukanya, memelukku yang menangis sesunggukan. Pernikahan yang sudah diambang pintu..tersisa tanpa jejak.

***********

Hampir sebulan aku mengurung diri, aku memilih resign dari tempat kerjaku karena konsentrasiku yang sangat terpecah. Aku sangat mencintai Charlie, satu satunya pria yang pernah hadir dalam kehidupanku. Mendengar lagu lagu sendu, melamun dan menangis...ternyata begini rasanya patah hati...

Ringgon....nama itu muncul dilayar HP ku. Suaraku serak “, Hai..”, berusaha menyembunyikan kondisiku yang sesungguhnya, “Lagi ngapain?”, “Lagi dihatimu...”, becanda, aku tersenyum geli “Dasar, polisi dimana mana sukanya ngegombal yah?”, “Ah ngga juga, kalau saya jago ngegombal saya udah punya pacar sekarang..”, candanya. “Iya gak punya satu, tiga iya..”, aku membalas ledekannya.

“Serius, saya kangen sama kamu..”, tiba tiba dia tersadar..”Eh..maaf..”, dengan nada malu malu. Diam diam aku geli “Hari gini masih ada cowok pemalu..”, dalam hatiku.

“Kamu pemalu yah?”, “Ah enggak..”, tapi nada suaranya grogi, aku masih tersenyum, enak nih diisengin. Tiba tiba aku tersadar...sudah berapa lama yah aku tidak tersenyum seperti ini?, baru cowok ini yang berhasil membuatku tersenyum lagi...dan senyumku makin lebar, Charlie mulai tersingkir.

Akhirnya aku bisa membebaskan diriku dari sakitnya kehilangan cinta pertamaku itu, tanpa disadari kehadiran suaranya tiap hari membuatku merasa punya tempat untuk bersandar, Charlie sudah kembali ke Belanda dan sejak saat itu kami kehilangan kontak.

Tiap hari Ringgon meneleponku dan kadang menyemangatiku, diam diam tanpa kusadari perasaan sukaku mulai tumbuh, mulai ada rasa kangen saat tidak mendengar suaranya. Terkadang dia mirip dengan Charlie meskipun tidak seromantis mantan kekasihku itu. Dia terlihat sangat tulus dan kebapakan...kadang mendengar suaranya seperti dipeluk selimut yang hangat.

Hingga akhirnya aku yakin aku jatuh cinta padanya.....

Aku mulai menikmati perhatiannya.

Dari jam kerjanya dia meneleponku “Halo..”.

“Iyah?”.

“Kangen..”, ucapnya serius

“Maksudnya?”, aku mencoba memastikan.

“Boleh nggak aku suka sama kamu?”, tanyanya hati hati. “Ah gak romantis, gak seru..”, nada suaraku mulai berubah, ada getaran disana. “Jadi bikin romantis gimana?”, tanyanya polos.

“Aku pengen kembali kemasa lalu, kalau serius, aku gak mau pakai sms atau telpon, pakai surat..”.tantangku.

“Surat?”, Ringgon bingung.

“Iya, buatkan aku surat cinta..pertanda kamu serius..!”.

Sebenarnya aku tidak serius, Ringgon tidak mungkin sekonyol itu.

Seminggu kemudian............

Mamaku menatap wajahku panik, “Kamu ada masalah apa?”, aku hanya terbengong, “Masalah gimana orang baik baik aja?”, urusanku dengan Charlie sudah lama berlalu, meski lukanya masih menganga sedikit.

“Kok ada ini?”, aku tersentak kaget. Ada amplop coklat berlogo bareskrim...POLRES POSO...Jangan jangan.....dengan secepat kilat aku membuka amplopnya. Aku tertawa kaget melihat isinya, kertasnya kertas berkop surat bareskrim poso, isinya pernyataan cinta tapi modelnya resmi, aku sampai sakit perut menahan tawa...ini surat cinta apa surat resmi kepolisian?.

Mama yang kebingungan, dapet surat kepolisian kok malah ngakak?, akhirnya aku jelaskan “, mama, ini yang kirim suratnya cowok yang tiap hari nelpon aku, dia mengucapkan kata cinta pake ini nih..hehehe”, mama terlihat lega.

****

Dan akhirnya aku sampai didepan kantornya, aku menunggu didepan, kantornya Ringgon ada didalam, jadi harus melapor ke piket depan dulu. Aku bermaksud membuat kejutan ini padanya.

Dan benar....dihadapannya aku berdiri, dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, entah karena aku sedang jatuh cinta, aku melihatnya sepuluh kali jauh lebih tampan daripada saat pertama kali bertemu.

“Kamu..?”, Dia masih merasa seperti mimpi.

“Sini aku bisikin sesuatu..”, aku mendekat ke wajahnya. “Apa?”

Aku mencium keningnya lembut “Makasih surat cintanya pak polisi, terimakasih sudah membuat hariku jadi berwarna lagi..”. aku menangis terharu. Aku yakin lelaki ini tidak akan pernah membuatku menangis lagi. Dia masih terdiam tak percaya, mencubit tangannya “, Aku masih seperti mimpi lho, kamu datang jauh jauh kesini cuma buat balas surat cintaku, maafkan aku tak bisa membalas pengorbananmu itu..”, dia terlihat terharu. Aku hanya tersenyum “, Aku ngerti pak polisi, kau tidak punya waktu ketemu aku karena tidak ada libur..”.

“May i touch your hand?”, tanyanya hati hati. Aku mengangguk, Ringgon membisikkan sesuatu ditelingaku “,Sebenarnya aku ingin memelukmu, tapi banyak orang..”, aku memukul bahunya pelan mendengar kalimatnya yang sedikit nakal. Lalu kami berkeliling kota Poso dengan sepeda motornya, menikmati kebersamaan yang semoga akan terus abadi.

 

 

2 komentar: