SURAT CINTA DARI KANTOR POLISI
By: Meyrist
Situngkir
“Deal kan ke Belanda say?”, aku memandang wajah imut kekasihku lewat
skype, si keriting yang menarik. Semenjak di Belanda, Charlie memang suka gonta
ganti gaya rambut, tapi tetap keren..aslinya sih memang keren.
Adik kelasku dulu waktu SMU...dia mendapat beasiswa S2 di Belanda.
Aku hanya tersenyum dimabukkan oleh pesonanya, kalau lagi dekat mungkin
aku sudah tidak mau lepas dari pelukannya yang hangat, jadi ngiri dengan orang
yang pacaran jarak dekat.
Sudah terjalin dua tahun lebih, dan satu tahun kemarin dia meninggalkanku
dengan janji setia yang aku yakin bisa kupercaya..
Aku hanya mengangguk, “Jangan mengangguk aja dong, sayang. Aku kan pengen
dengarkan suaramu”, “Habis kamu makin ganteng sih, sayang..bikin kangen tau?”,
aku mengetik sambil tersenyum..namun jelas terpancar diwajahku rasa cinta.
“Tenang aja beib, minggu depan kekasihmu ini akan pulang”, senyumnya
seolah itu kalimat yang biasa.
Aku melongo didepan layar monitor “, Yakin?”.
“Yakinlah..”, dia melepaskan headsetnya sambil mengetik
“Oh..i miss that moment so much..”
“I miss you too, hun!” Charlie terlihat serius...
******
Tak sabar...
Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, rasa rinduku amat sangat
membuncah..
Berkali kali aku melirik jam tanganku, rasanya waktu lama sekali diajak
kompromi...
Seperti apa wajah aslinya setelah setahun tidak bertemu?
Aku menyetel lagu kesukaan kami dulu..waktu masih sama sama di putih abu
abu
I MISS YOU LIKE CRAZY
Lagunya the moffats
“I used to call you my girl
I used to call you my friend
I used to call you the love
The love that i never had
I dont know what to do
When will i see you again
Chorus:
I miss you like crazy
Even more than words can say
Every minute of every
day Girl Im so down when your love’s not around I miss you, miss you, miss you
like a crazy
Aku melamun sejenak,
meresapi lagu itu...seseorang mengetuk kaca mobil, aku hampir ketiduran, aku
terhenyak kaget, sesosok wajah putih berada disamping kaca spion, mengenakan
celana pendek warna coklat, jaket merah marun dan sepatu kets santai...Charlie
banget..style nya masih belum berubah. Rasa kantukku kontan menghilang...
Charlie gantian
menyetir sebelum akhirnya dia mencium keningku lembut..
“Kangen honey..!!!”,
aku menggenggam tangannya erat. I miss you so much..”.
“tomat?”, godanya
kalem, “so much honey, so mach so mach tomat..”, aku tersenyum bahagia.
“Merah dong..”,
godanya lagi
“Bulat aja sekalian,
kayak aku..!” , wajahku bersemi merah.
Aku menatap wajahnya
seolah tak percaya, sambil menyetir tangannya tetap menggenggam tanganku.
“Aku ingin melamarmu,
makanya aku pulang..”,
“Really?”, aku tak
bisa menyembunyikan rona bahagiaku. Charlie mengangguk yakin.
****
Sedikit agak nervous
memasuki rumahnya Charlie yang berdiri
megah, hasil keringkat kekasihku selama bekerja dinegeri paman sam sana. Dulu aku
masih ingat, keluarga mereka hidup pas pasan, Charlie pemuda yang tegar dan
tangguh, pernah tidak makan berhari hari karena tidak punya uang, namun keadaan
itu justru menempanya menjadi pribadi yang kuat dan tegar, rela melakukan
pekerjaan apa saja untuk mendapatkan uang.
Setidaknya terbayar
lunas kini masa masa sulit dan penuh perjuangan itu, sudah lama tidak kerumah
orangtua Charlie, aku memang membatasi diri sebagai kekasihnya, sebagai orang
batak aku takut melampaui batas.
Dan kami belum pernah
memproklamirkan diri secara khusus bahwa kami in a relationship..
Ibunya menyambutku
dengan ramah.....
“Mawar, sudah lama
tidak kerumah?”,
“Iya nantulang, “. Itu
dia...sebenarnya Charlie masih tergolong tulang alias pamanku, Cuma rasa cinta
membuat kami menyingkirkan “status” itu, lagipula toh zaman sekarang sudah jauh
lebih fleksibel, tidak seperti zaman dulu lagi sangat ketat dalam hal “paradaton”.
“Sehatnya kau boru?,
kenapa tidak pernah main main kesini?”, bukan basa basi, karena memang ibunya
Charlie sangat tulus, khas wanita batak dari Samosir.
“Sehat nantulang..”,
suaraku terdengar grogi, bagaimana kalau ibunya Charlie menolak?..entah mengapa
aku mendadak resah, aku minum berkali kali. Charlie menangkap kegelisahanku,
menggenggam tanganku erat, ibunya menatap tajam seolah tidak suka. “Susah
memang anak jaman sekarang, sudah tidak sama dengan zaman inang dulu, kalau
inang dulu jalan sama laki laki itu jarak dua meter jaraknya, kalau “martandang”
dulu itu tidak ketemu muka, dari “bara”nya lelaki, perempuan diatas rumah
saling menjawab, tidak bertatapan muka, makanya tidak banyak yang rusak, jangan
semua budaya luar itu kau praktekkan di sini amang..” sindiran yang sangat halus tapi mengena hingga ke jantung..degg...sontak
Charlie melepaskan tanganku.
Memberi isyarat
dengan matanya , aku hanya terdiam kaku....”Inang, kepulanganku kesini aku mau
melamar..”, tatapannya menenangkanku. Aku masih saja tergugu kaku...tatapan
ibunya terasa tidak bersahabat dimataku, entahlah apakah aku yang salah
menilai..
Ibunya menghela nafa
sejenak, “Inang sih setuju saja, memang sudah seharusnya kau menikah, jangan
melanglang buana lagi, cari kerja di Indonesia saja..inang sudah tidak butuh
harta, inang butuh ada yang menemani, adik adikmu tidak ada yang bisa
diharapkan..”, aku mulai bernafas lega...lampu hijau berarti.
Charlie menatapku
lembut, tersenyum...”Ok inang, akan segera aku urus pernikahan kami, setelah
ini akan aku boyong Mawar ke Belanda, hanya setengah tahun disana, kami akan
kembali..”. janjinya pasti. Aku menatapnya penuh cinta sambil berucap dalam
hati “Terimakasih, sayang”.
********
Aku melompat kaget
saat sebuah mobil jip hampir menabrakku, hampir saja kumaki ketika dia datang
tergopoh gopoh meminta maaf...
“Sorry..sorry, aku
lagi buru buru..!”
“Buru buru juga, mang
ini jalan nenek moyang lo?”, semprotku
Dia hanya tersenyum
kalem, dibalik sweaternya melekat seragam coklat. “Oh, kamu polisi?, gak punya
aturan banget sih, katanya tugasnya mengabdi..”, aku makin emosi, nyawa nih...
“Sorry nanti kita
bereskan, aku hanya ingin buru buru ke tujuan, lain kali kita bertemu lagi..”,
meloncat kembali ke jipnya. Aku hanya terpaku, dia berlalu dengan kecepatan
lumayan tinggi.
Ada yang
ketinggalan....aku mengambil sesuatu dari aspal....sebuah dompet berwarna
hitam, ada sejumlah uang dan surat surat berharga. Namanya Ringgon, unit
Buser...Polres Poso...
Ketemu nomor
teleponnya, aku menelpon tapi nadanya sibuk....akhirnya ku sms “,Maaf, dompetmu
ketinggalan, aku dapet nomermu di dompetmu, kalau mau jemput kerumahku alamat
bla..bla”, singkat dan aku yakin dia cukup mengerti..
Segera ada balasan di
Hpku “Simpan saja dulu, kapan kapan kujemput, buru buru aku harus balik ke
Poso..”.
Dia mengaku sudah di
Bandara...
Aku menggenggam
dompetnya erat.
Sorenya....
Ringgon menelpon “Hai...”,
aku membalas ramah “Hai juga?”, “Lagi sibuk nggak?”, “Biasa aja”, jawabku
datar.
Sepertinya dia
sedikit pendiam, banyak diam namun tidak mau menutup telepon, akhirnya aku yang
menutup telepon tanpa basa basi.
Lelaki itu mulai
sering menelepon, tidak terlalu sering, sekali seminggu, namun lama lama mulai
kurasakan kehangatan hatinya, dulu aku sangat benci pada polisi, tapi dia beda
setidaknya itu yang tersirat. Lugu dan anak rumahan banget...mungkin area bermainnya hanya rumah dan kantor, aku mulai
bersimpati...
“Aku dulu benci
dengan polisi”, aku mencoba jujur
“Kenapa?”
“Dimataku polisi itu
bajingan, suka godain cewek, yah pokoknya alergi deh sama yang namanya polisi..”
“Oh ya?, menurutmu
aku?” Ringgon sedikit penasaran.
“Sedikit lebih
baiklah, kan aku juga ga tau aslimu gimana, belum tau..”.
“Sudah punya pacar?”,
aku sedikit kaget..itu pertanyaan yang menjurus...
“Hah?”,
“Iseng doang, jangan
dianggap serius. Kamu bukan typeku..”, nadanya kalem
Dalam hati aku
mengutuk “Sialan...”.
*****
Charlie agak
kelelahan akhir akhir ini, aku memijit punggungnya, selain untuk urusan
pernikahan dia juga sibuk dengan projectnya dengan almamaternya, Charlie
diundang menjadi pembicara “Education Characters”, wajahnya pucat keringat
dingin. Aku memegang tangannya erat, “Kamu pucat..”, “Aku nggak apa apa, asal
ada kamu..!!” masih sempat ngegombal..
Charlie membuka BB
nya, “Coba deh baca statusku..”, aku melirik ke layar blackberry-nya, ada
photoku yang sedang tertidur nyenyak dirumahnya, kata kata dibawahnya “,Kekasihku
ngegemesin juga kalau lagi tidur, kayak bayi..cantik, kayak Afika yang bintang
iklannya oreo, pengen nyium..tapi belom boleh..belom sah..!!”, aku memukul
lengannya manja, “Dasar...”. Charlie memelukku...mencium keningku. Hpku bunyi “,
Ringgon..”, Charlie bertanya “Siapa say?”, “Teman sayang, dia polisi di Poso,
kemarin itu dompetnya jatuh trus aku telpon dia, jadinya temenan deh..”,
Charlie hanya ber-ooh panjang. “Eh, aku lupa..inang ngundang kita makan
dirumah, katanya dia lagi buat napinadar..”. aku hafal masakan itu, ayam yang
dipanggang darahnya dicampur kedalam bumbu, rasanya sedap pedas muantapp.
“Kapan jadinya
tanggal pernikahan kalian”, Inang mulai serius mengurusi rencana pernikahan
kami, “Tanggal 14 februari saja inang, biar romantis..”, Charlie memang selalu
romantis, kebiasaan itu sudah ada dari SMU.
“Ah terserah
kalianlah, tapi inang hanya tau hari baik yang diatur menurut adat batak, kapan
jadinya kau beritahu mamak, supaya punya persiapan juga, menikah itu perlu
persiapan matang “, aku hanya mengangguk hormat “Sudah inang, mama sudah
setuju, atau perlu bicara dengan mama?”, aku memencet hpku lalu menyerahkan
kepada mama Charlie. Calon mertuaku itu keluar mencari sinyal yang bagus,
karena dirumah batak jarang ada sinyal.
Mereka terlibat
pembicaraan panjang dan akrab, aku tersenyum bahagia..bukankah itu awal yang
sangat bagus?.
Lalu.....
Inang terdiam sejenak
sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang.
“Mawar dan Charlie, kalian tidak bisa menikah..!!”, serasa disambar
petir kami berdua saling berpandangan. Badanku mulai gemetar “, Ma...maksudnya?”,
airmataku mulai berlinang, Charlie tak kalah shocknya..
“Yah...begini inang..”,
mama Charlie terlihat sangat berat hati, terlihat tidak tega melihat wajah
shockku. “Begini...ternyata aku kenal mamak kau, kawan sepermainanku di
Samosir, dan ternyata kalian itu saoppung kandung, sedarah..”, penjelasan itu
lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan mimpi kami berdua. Aku masih berdiri
dengan tidak percaya...bahkan untuk berdiripun aku rasanya tak sanggup..”Ternyata
kita saudara..”, Charlie tak kalah terlukanya, memelukku yang menangis
sesunggukan. Pernikahan yang sudah diambang pintu..tersisa tanpa jejak.
***********
Hampir sebulan aku
mengurung diri, aku memilih resign dari tempat kerjaku karena konsentrasiku
yang sangat terpecah. Aku sangat mencintai Charlie, satu satunya pria yang
pernah hadir dalam kehidupanku. Mendengar lagu lagu sendu, melamun dan
menangis...ternyata begini rasanya patah hati...
Ringgon....nama itu
muncul dilayar HP ku. Suaraku serak “, Hai..”, berusaha menyembunyikan
kondisiku yang sesungguhnya, “Lagi ngapain?”, “Lagi dihatimu...”, becanda, aku
tersenyum geli “Dasar, polisi dimana mana sukanya ngegombal yah?”, “Ah ngga
juga, kalau saya jago ngegombal saya udah punya pacar sekarang..”, candanya. “Iya
gak punya satu, tiga iya..”, aku membalas ledekannya.
“Serius, saya kangen
sama kamu..”, tiba tiba dia tersadar..”Eh..maaf..”, dengan nada malu malu. Diam
diam aku geli “Hari gini masih ada cowok pemalu..”, dalam hatiku.
“Kamu pemalu yah?”, “Ah
enggak..”, tapi nada suaranya grogi, aku masih tersenyum, enak nih diisengin. Tiba
tiba aku tersadar...sudah berapa lama yah aku tidak tersenyum seperti ini?,
baru cowok ini yang berhasil membuatku tersenyum lagi...dan senyumku makin
lebar, Charlie mulai tersingkir.
Akhirnya aku bisa
membebaskan diriku dari sakitnya kehilangan cinta pertamaku itu, tanpa disadari
kehadiran suaranya tiap hari membuatku merasa punya tempat untuk bersandar,
Charlie sudah kembali ke Belanda dan sejak saat itu kami kehilangan kontak.
Tiap hari Ringgon
meneleponku dan kadang menyemangatiku, diam diam tanpa kusadari perasaan sukaku
mulai tumbuh, mulai ada rasa kangen saat tidak mendengar suaranya. Terkadang dia
mirip dengan Charlie meskipun tidak seromantis mantan kekasihku itu. Dia terlihat
sangat tulus dan kebapakan...kadang mendengar suaranya seperti dipeluk selimut
yang hangat.
Hingga akhirnya aku
yakin aku jatuh cinta padanya.....
Aku mulai menikmati
perhatiannya.
Dari jam kerjanya dia
meneleponku “Halo..”.
“Iyah?”.
“Kangen..”, ucapnya
serius
“Maksudnya?”, aku
mencoba memastikan.
“Boleh nggak aku suka
sama kamu?”, tanyanya hati hati. “Ah gak romantis, gak seru..”, nada suaraku
mulai berubah, ada getaran disana. “Jadi bikin romantis gimana?”, tanyanya
polos.
“Aku pengen kembali
kemasa lalu, kalau serius, aku gak mau pakai sms atau telpon, pakai surat..”.tantangku.
“Surat?”, Ringgon
bingung.
“Iya, buatkan aku
surat cinta..pertanda kamu serius..!”.
Sebenarnya aku tidak
serius, Ringgon tidak mungkin sekonyol itu.
Seminggu
kemudian............
Mamaku menatap
wajahku panik, “Kamu ada masalah apa?”, aku hanya terbengong, “Masalah gimana
orang baik baik aja?”, urusanku dengan Charlie sudah lama berlalu, meski
lukanya masih menganga sedikit.
“Kok ada ini?”, aku
tersentak kaget. Ada amplop coklat berlogo bareskrim...POLRES POSO...Jangan
jangan.....dengan secepat kilat aku membuka amplopnya. Aku tertawa kaget
melihat isinya, kertasnya kertas berkop surat bareskrim poso, isinya pernyataan
cinta tapi modelnya resmi, aku sampai sakit perut menahan tawa...ini surat
cinta apa surat resmi kepolisian?.
Mama yang
kebingungan, dapet surat kepolisian kok malah ngakak?, akhirnya aku jelaskan “,
mama, ini yang kirim suratnya cowok yang tiap hari nelpon aku, dia mengucapkan
kata cinta pake ini nih..hehehe”, mama terlihat lega.
****
Dan akhirnya aku
sampai didepan kantornya, aku menunggu didepan, kantornya Ringgon ada didalam,
jadi harus melapor ke piket depan dulu. Aku bermaksud membuat kejutan ini
padanya.
Dan benar....dihadapannya
aku berdiri, dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, entah karena aku
sedang jatuh cinta, aku melihatnya sepuluh kali jauh lebih tampan daripada saat
pertama kali bertemu.
“Kamu..?”, Dia masih
merasa seperti mimpi.
“Sini aku bisikin
sesuatu..”, aku mendekat ke wajahnya. “Apa?”
Aku mencium keningnya
lembut “Makasih surat cintanya pak polisi, terimakasih sudah membuat hariku
jadi berwarna lagi..”. aku menangis terharu. Aku yakin lelaki ini tidak akan
pernah membuatku menangis lagi. Dia masih terdiam tak percaya, mencubit
tangannya “, Aku masih seperti mimpi lho, kamu datang jauh jauh kesini cuma
buat balas surat cintaku, maafkan aku tak bisa membalas pengorbananmu itu..”,
dia terlihat terharu. Aku hanya tersenyum “, Aku ngerti pak polisi, kau tidak
punya waktu ketemu aku karena tidak ada libur..”.
“May i touch your
hand?”, tanyanya hati hati. Aku mengangguk, Ringgon membisikkan sesuatu
ditelingaku “,Sebenarnya aku ingin memelukmu, tapi banyak orang..”, aku memukul
bahunya pelan mendengar kalimatnya yang sedikit nakal. Lalu kami berkeliling
kota Poso dengan sepeda motornya, menikmati kebersamaan yang semoga akan terus
abadi.
It's wonderful mey... i knew it.. ;)
BalasHapusIt's mean you know them right?, :-)
Hapus