Kisah ini terinspirasi dari kehidupan nyata yang kualami beberapa bulan terakhir tentang kuatnya cinta dan persahabatan dari orang orang yang mencintaiku....
Puncak kekesalanku semakin menjadi setelah mendengar cerita dari mas Suntono, bagian sirkulasi kantor tentang kelakuan Donny, baru beberapa minggu kemarin aku dan teman teman redaksi sampai mengadakan rapat khusus dengan bapak direktur mengenai kalimat kalimat yang terlontar dari mulut makhluk gembul itu.
pas peluncuran buku Jokowi ketika masih kampanye menjelang pemilihan Gubernur Jakarta.
"Mbak Mey katanya mau dirumahkan..", celetuk mas Suntono tiba tiba.
selera makanku langsung menghilang, khabar burung mendadak dimana bahkan sedikit tiupan anginpun tak menyampaikan khabarnya padaku.
"Mas tau darimana?", aku kenal betu mas Tono, lelaki ramah satu ini bukan orang yang suka menghembuskan khabar burung, pasti ada yang meniupkan khabar itu..sudah tersirat satu nama, namun aku mau memastikannya lebih dulu.
"Dari Donny mbak, dia menyampaikannya didepan semua orang..." mas Tono dengan wajah serius.
"Hmm..sudah saya duga tadi mas, dikantor kita cuma satu nama itu yang biang kerok...aseeeem".
dalam hatiku kesal, sepanjang jalan perjalanan balik ke kantor dari Gramedia Matraman tempat acaranya Jokowi, saya mendidih kesal.
Mas Tono membonceng saya pelan pelan, sembari mengajak saya ngobrol...
"Tapi mas, kayaknya ngga mungkin deh ibu Asih merumahkan saya, bukannya saya geer dan merasa sok dibutuhkan yah, tapi masalahnya baru kemarin ibu Asih bilang kalau misalnya dapat kantor yang modelnya rumah, bu Asih mau ngajak saya tinggal bareng..".
"Makanya, yang harus kita hati hati tuh si kunyuk satu itu...".
aku hanya bisa menghela nafas panjang....
setiba di kantor....
Ibu Asih, manager keuangan memanggil saya, mas Suntono langsung menuju ruangan lain.
"Mey, tanda tangan disini..!". menyerahkan slip gaji kehadapan saya..
aku mengembalikan slip gaji ke depan Ibu Asih.."Ibu pegang saja, saya mau ngomong sesuatu..", sebagai seorang yang sudah berpengalaman, beliau menangkap gurat kegelisahan diwajahku.
"Ada apa Mey?".
"Gini, bu, saya to the point aja, saya mungkin orang yang sombong menurut pandangan ibu, tapi sebelum ibu memecat saya, mending saya mengundurkan diri duluan, ini masalah prinsip bu..soal gaji saya, saya ngga mau ngambil, ibu pegang saja..".
Ibu Asih tersenyum keibuan ", Kamu dengar berita itu dari siapa?"
"Ada bu, ibu ngga perlu tau..", Ibu Asih terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata tegas "Kalau begitu, saya anggap kamu ngarang, kamu keluar sekarang juga..", aku gelagapan jadinya. "Doni bu, tapi saya tahu dari mas Tono...". Ibu Asih terdiam mengerti.
Mas Tono masuk keruangan disusul Doni, "Ibu Asih, saya mau beli handycam, sudah izin sama bapak..", "Kita lagi ngga ada dana lebih..", jawab bu Asih tegas
"Saya udah izin bapak bu, pakai kartu kreditnya pak Suntono..!" Doni seperti biasa dengan kalimat andalannya, aku hanya menatap gemas cowok itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar